ss_blog_claim=5e5b9a8a4815ce36b69772af708e9712

Facebook Haram ?
comment No Comments Written by ronggo on May 25, 2009 – 4:19 am

Pertama kali saya dengar hal ini, saya sempat tertawa sejenak. Kok ya bisa ( tentu di jawab; ya bisa… apa sih yang nggak bisa “diatur”? ). Dengan alasan yang diharamkan adalah untuk muda-mudi serta para umat untuk menggunakan facebook sebagai media chatting, cari jodoh maupun sampai kemasalah permainan yang menjurus pada perjudian dan porno serta berbagai macam alasan-alasan lainnya.

Hanya karena beberapa pimpinan dari pihak tertentu tidak bisa mengontrol orang-orang yang dipimpin lantas membawa-bawa unsur agama untuk membenarkan perkataan mereka menurut saya adalah suatu tindakan yang tidak mencerminkan intelektual maupun umat beragama yang baik dan patut dicontoh masyarakat. Negara dan bangsa ini mau bergerak maju, agama pun bergerak maju, bukan dua-duanya malah mundur.

Dalam sebuah peng-ibarat-an : Seorang maling yang insyaf karena tahu dan mengerti akibat perbuatannya dibandingkan dengan seorang maling yang insyaf karena disuruh tanpa mengerti “mengapa” serta “apa” akibat perbuatannya. Tentu keduanya ber-potensi untuk mengulangi kembali perbuatan malingnya karena sudah “manusia” untuk mengulangi kesalahan dengan segala jenis alasan. Memang secara umum lebih baik bisa mengerti keduanya walaupun dengan pengertian yang penuh tetap saja bisa mengulangi perbuatannya, tidak ada yang dapat menjamin kecuali dirinya sendiri.

Setiap manusia yang telah menginjak usia dewasa juga harus paham betul apa itu hak dan kewajiban baik sebagai warga negara juga sebagai penganut agama atau kepercayaan tertentu. Masalah hak dan kewajiban terhadap negara yang dilanggar itu adalah urusan pihak yang berwajib, masalah hak dan kewajiban dalam suatu agama atau kepercayaan, hanya dirinya dan Yang Pencipta yang urus. Tidak ada yang dapat menjamin.

Mungkin bisa dibilang, semenjak ada “demam facebook”, banyak penggunanya yang terlihat membuang waktu bahkan menempatkan sesuatu hal penting dibelakang kepentingan ber-facebook. Sama halnya sebagai suatu peng-ibarat-an lagi: Singkong Keju. Apabila masyarakat umum lantas menggemari produk singkong keju tersebut sampai-sampai menyebabkan produk makanan lain kurang begitu laku, apakah singkong keju akan menjadi haram?. Dan tentunya kita punya kesadaran masing-masing yang bisa dilanggar bisa juga ditaati “kebanyakan makan singkong keju nanti sakit perut”. Itu resiko ditanggung penumpang, tidak ada yang bisa melarang. Sebetulnya sudah menjadi sebuah kesadaran umum bahwa:

“segala sesuatu yang terlalu banyak/over, akan mengakibatkan hal-hal yang kurang berkenan”

Bisa terhadap diri sendiri maupun pengaruhnya kepada orang lain. Bila anda merasa bahwa anak buah / anak didik anda terlalu banyak membuang waktu / melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, jangan cepat-cepat membawa unsur ke-agamaan untuk mendidik mereka. Berilah pemahaman secara manusiawi dengan memberikan pengertian-pengertian yang bersifat umum dan mudah dimengerti. Waspadalah, salah-salah dalam menghubungkan sebuah ketentuan agama dengan sebuah permasalahan dapat mencerminkan seberapa tingkat intelektualitas anda dan seberapa dalam peng-aplikasian pengertian agama anda dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks masyarakat Islam, seperti yang ditulis oleh Dr. Yusuf Qaradhawi:

“Al-Quran telah menegaskan kesesatan mereka yang berani menghalalkan sesuatu yang seharusnya haram, dan mengharamkan sesuatu yang seharusnya halal; al-Quran mengatakan:

“Sungguh rugilah orang-orang yang telah membunuh anak-anak mereka lantaran kebodohannya dengan tidak mengerti itu, dan mereka yang telah mengharamkan rezeki yang Allah sudah berikan kepada mereka (lantaran hendak) berdusta atas (nama) Allah; mereka itu pada hakikatnya telah sesat, dan mereka itu tidak mau mengikuti pimpinan.” (al-An’am: 140)”

Ada 2 sisi disini dimana pembaca juga bisa memilih salah satu mana yang haram dan halal sesuai dengan pembenaran yang ada di pikiran masing-masing pembaca , kembali lagi tidak akan ada yang dapat menjamin yang haram tidak akan dilanggar.

“Jangan jadi bangsa dan budaya yang gersang, jadilah bangsa yang kaya akan kepribadian, budaya, ilmu pengetahuan serta agama dan kepercayaan sesuai dengan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam merdeka !”

Browse Timeline

Related Post

Post a Comment

*



Want to subscribe?

 Subscribe in a reader Or, subscribe via email:
Enter your email address: